Sinopsis Film American Ultra

Mike Howell (Jesse Eisenberg) adalah seorang penjaga toko swalayan di Liman, Virginia Barat. Ia hidup sederhana bersama kekasihnya, Phoebe (Kristen Stewart). Impiannya pun sederhana, yaitu menjadikan Phoebe istrinya. Ketika Mike dan Phoebe gagal melakukan sebuah perjalanan romantis lantaran serangan panik yang biasa ialami Mike kambuh sehingga mereka melewatkan keberangkatan pesawat mereka, kisah sebenarnya dari film ini pun dimulai.

Sepasang kekasih ini bermaksud memulai kembali kehidupan mereka yang biasa. Mike kembali menyusun rencana untuk melamar Phobe. Seorang wanita misterius mendatangi Mike di toko swalayan tempatnya bekerja dan mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak dimengerti oleh Mike. Wanita yang bernama Victoria Lasseter (Connie Britton) itu pun pergi setelah meminta maaf kepada Mike. Tidak lama kemudian, Mike—yang tengah memakan semangkuk mi instan—memergoki dua orang tengah mengutak-atik mobilnya. Melihat Mike, bukannya melarikan diri, dua orang berperawakan tegap dan bersenjata api itu malah menyerang Mike. Di luar dugaan Mike sendiri, dua orang itu dapat dibunuhnya hanya dengan sebatang sendok dan semangkuk mi instan berkuah panas. Mike, yang bahkan tak pernah merasa bisa melakukan jurus-jurus bela diri, benar-benar terkejut dan bingung.

Sinopis Film American Ultra

Ketika Mike dan Phoebe bermaksud menjelaskan semuanya di kantor polisi setempat, dua orang—satu laki laki dan satu perempuan—menyerang dan meluluhlantakkan kantor polisi tersebut. Dua orang tersebut sebenarnya adalah aset program toughtguy yang dipimpin oleh Adrian Yates (Topher Grace). Yates ingin membunuh Mike dengan alasan Mike hendak berusaha meninggalkan kota. Ambisi sebenarnya dari Yates adalah membuktikan bahwa aset-aset program Toughtguy yang dikembangkannya lebih baik daripada program Wiseman yang selama ini dipimpin oleh Victoria. Mike dan Phoebe melarikan diri dan bersembunyi di tempat milik Rose (John Leguizano), kawan Mike, meski tidak bertahan lama karena Yates telah melakukan sebuah operasi militer, menyerang tempat persembunyian Mike dan Phoebe itu, dan membunuh Rose.

Phoebe menyelamatkan Mike yang sekarat akibat gas beracun. Hal ini justru membuat Mike menyadari bahwa Phoebe bukan gadis seperti yang selama ini ia kira. Mike mulai meragukan siapa jati diri Phoebe sebenarnya dan apa alasan Phobe ada dalam hidupnya selama ini. Di sisi lain, Mike merasa takjub akan dirinya sendiri. Mulai dari kemampuan dan refleksnya membela diri, hingga tingkat intelijensi dan kecepatan reaksinya terhadap situasi di sekitarnya. Namun, di saat yang sama, Mike semakin bingung dan tidak mengerti tentang apa atau siapa dirinya.

Adalah Victoria yang menyelamatkan dan menjelaskan kepada Mike segala hal yang berkaitan dengan diri dan kehidupan Mike yang sebenarnya. Bahwa Mike sebenarnya adalah aset program Wiseman, pengembangan program Ultra yang berada dalam pimpinan Victoria. Ultra sendiri adalah semacam program rekayasa genetika untuk meningkatkan kemampuan seseorang yang akan digunakan sebagai agen-agen rahasia negara. Pengetahuan ini membuat Mike semakin tidak tahu apa yang mesti dipercayainya, terlebih ketika ia mengetahui bahwa Phoebe, kekasihnya selama ini, adalah seorang agen CIA yang sebenarnya ditugaskan untuk mendampingi dan memantau kehidupan personal Mike selama status nya sebagai aset Wiseman dinonaktifkan. Mike pun semakin meragukan cinta Phoebe terhadapnya.

Keraguan ini membuat Mike taklagi memedulikan semua hal yang terjadi di sekitarnya. Mike juga tak peduli apakah ia akan terbunuh atau tidak. Maka, ia pun pulang ke rumahnya dengan Victoria yang mengikuti dan berusaha melindunginya. Barulah ketika rumah yang selama ini ditempatinya bersama Phoebe itu diserang dan sekali lagi Mike berhasil selamat, ia menyadari bahwa terlepas dari bagaimanapun perasaan Phoebe terhadapnya, yang terpenting adalah perasaannya sendiri terhadap Phobe. Ia sangat mencintai Phoebe, yang kini dijadikan sandera oleh Yates untuk memancing Mike agar menyerah, dan ia memutuskan untuk menyerang Yates dan pasukannya seorang diri demi menyelamatkan kekasihnya itu.

Dibuka dengan adegan dalam sebuah ruang interogasi, dilanjutkan dengan kilasan-kilasan yang memandu penonton menuju awal cerita, saya, dan mungkin juga banyak penonton lainnya, barangkali akan menyadari bahwa Mike, tokoh utama dalam film ini, akan berakhir dengan selamat meski babak belur. Saya sempat berharap, atau lebih tepatnya berusaha memasukkan prasangka bahwa m ungkin Mike bukanlah tokoh utama. Barangkali ada seseorang atau beberapa tokoh lain yang merupakan tokoh utama dan Mike hanya merupakan seorang yang berhasil bertahan hidup untuk kemudian bertindak sebagai narator cerita. Sayangnya, harapan atau usaha prasangka saya itu kandas. Mike memang (sempat) bertindak sebagai narator, tetapi yang diceritakannya adalah dirinya sendiri.

Menahan diri untuk tidak buru-buru kecewa, saya terus mengikuti film ini, sambil bertanya-tanya atau lebih tepatnya berusaha mempertahankan rasa penasaran saya. Mungkin saja masih akan ada kejutan-kejutan yang tengah menunggu untuk menawarkan dahaga saya. Adegan Mike yang tengah berdiri di depan toko swalayannya, yang terekam oleh sebuah alat pemantau dan terhubung langsung ke dalam data base markas besar CIA, cukup membuat saya tertarik. Dari sinilah kita kemudian mengerti bahwa Mike adalah sosok yang penting bagi lembaga intelijen pemeintah, dan bagi kita (baca: penonton) tentunya. Selanjutnya, penonton akan semakin mengerti siapa dan bagaimana kedudukan Mke di dalam cerita ini lebih dari dirinya sendiri.

Saya teringat sebuah film berjudul Total Recall (2012) dengan Colin Farell sebagai pemeran tokoh utamanya. Agak mirip dengan American Ultra, film tersebut menceritakan tentang seseorang yang semula menjalani kehidupan sebagai warga sipil atau orang biasa kemudian berbalik 180 derajat, mendapati dirinya memiliki kemampuan di atas rata-rata orang biasa dan mengalami petualangan yang penuh ancaman dan bahaya. Bedanya, jika dalam Total Recall (2012) itu penonton bisa ikut serta dalam kebingungan tokoh utama dalam mencari jati dirinya, American Ultra seolah meminta penonton menunggu dan melihat bagaimana aksi Mike untuk sampai kepada pemahaman mereka.

Dengan gamblang kita pun dapat menemukan siapa saja yang menjadi tokoh antagonis yang sebenarnya dalam film ini, seperti Yates dengan program Toughtguy dan operasi militer besar-besarannya yang sebenarnya kurang menampakkan kekuatan dan kekejamannya, kecuali sikap yang meledak-ledak yang menunjukkan keambisiusannya. Saya kembali menanyakan pada diri saya semdiri apa yang sebenarnya harus dinikmati dari film ini?

Nima Nourizadeh, sang sutradara, mengemas adegan perkelahian dan aksi-aksi Mike saat menghadapi orang-orang yang memburunya dengan cepat sehingga terkesan terburu-buru, kurang artistik, dan sadis. Namun, jika kita perhatikan dalam setiap adegan perkrlahian itu, Mike menggunakan benda-benda yang ada di sekitarnya sebagai senjata mematikan. Hal ini sangat layak untuk diapresiasi. Satu adegan yang paling mengesankan bagi saya adalah ketika Mike menggunakan penggorengan untuk memantulkan peluru yang ditembakkannya sehingga dapat mengenai orang yang memburunya.

Kristen Stewart barangkali adalah pesona tersendiri dalam film yang naskahnya ditulis oleh Max Landis ini. Meski tidak semenonjol perannya dalam sekuel Twilight, Stewart membawakan sisi emosinal tokoh Phoebe Larson dengan sangat baik. Tidak berlebihan rasanya jika saya katakan bahwa chemistry yang antara karakter Mike Howell dan Phoebe Larson adalah pemanis sekaligus hiburan tersendiri bagi penonton dalam film ini. Peran Pheobe yang tidak hanya menjadi kekasih Mike, tetapi juga pengasuh sekaligus pengacara (pembela) Mike saat menghadapi masalah, membawa kita untuk mengamati sisi lain di samping kandungan aksi dari film ini. Agak jauh kita kembali pada bagian awal film. Pascaadegan-adegan pengantar awal cerita, sesaat kita disajikan narasi Mike tentang kisah hidupnya. Mike tak tahu apa-apa tentang dirinya kecuali bahwa ia mencintai Phoebe. Bahwa ia dan Phoebe saling mencintai. Dan, terlepas dari segala kekurangan dalam diri Mike dan kesempurnaan pada diri Phoebe, Mike tahu ia sangat membutuhkan Phoebe dalam hidupnya. Max Landis boleh jadi sukses memoertahankan sisi drama yang dibangunnya sejak awal cerita ini.

Sepanjang film, hingga di puncak kebingungan Mike akan siapa jati dirinya, Mike memutuskan untuk tidak peduli apa, siapa, atau bagaimanapun sebenarnya dirinya, ia mencintai Phoebe. Cinta itulah yang membuat Mike tak ingin melarikan diri lagi dan justru berbalik menyerang Yates seorang diri demi menyelamatkan Phoebe.

Warna komedi juga nampak berusaha ditampilkan dalam film ini. Simak saja gestur Mike usai meghabisi dua orang berperawakan anggiota militer di areal parkir toko swalayannya. Ketangkasannya segera berubah menjadi kecanggungan. Eisenberg cukup berhasil mempertahankan sisi humoris Mike Howell hampir sepanjang film. Lihat juga adegan ketika mIke melamar Phoebe saat mereka baru keluar dari toko swalayan dalam keadaan babak belur, di tengah kepungan polisi.

Jangan pula kita melupakan Apollo Ape. Karakter monyet angkasa buatan Mike yang kerap digambar dan dijalinnya dalam sebuah cerita di sela-sela pekerjaannya menjaga toko. Barangkali Apollo Ape merupakan simbol dari potensi atau kemampuan Mike yang tidak disadarinya. Mungkin juga ilustrasi kera super ini adalah bentuk kreativitas Mike yang mengandung keinginannya untuk bebas, untuk tidak dipandang hanya dari penampilan, untuk tidak dianggap remeh oleh orang lain.

Pembaca yang budiman, jika Anda kemudian penasaran dengan film American Ultra usai membaca tulisan ini, saran saya, tontonlah. Dan, jika sebagai penonton Anda merasa bingung harus menggolongkan film ini ke dalam komedi, drama, atau aksi, saran saya, takperlu diambil pusing. American Ultra ibarat sebuah permen dengan rasa manis lewat kisah cinta Mike dan Phoebe, asam dalam adegan-adegan perkelahian yang terkesan sadis dan terburu-buru, juga asin pada untus komedi yang hampir serasa dipaksakan. Ramai rasanya.

Selamat menikmati.

Sinopsis Film dalam Trailer American Ultra 2015